BlackRock Minati LRT Cibubur - Bogor

News - Friday, 08 September 2017

Biaya pembangunan kereta api ringan terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi tahap kedua lintas Cibubur-Bogor akan lebih murah ketimbang tahap pertama lintas Cawang-Cibubur.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan ketertarikan perusahaan investasi BlackRock dalam proyek kereta api ringan atau light rail transit (LRT) di Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) akan membuat biaya pembangunan rute Cibubur-Bogor menjadi lebih murah.

Hal tersebut dapat terjadi karena bunga pinjaman pembiayaan bisa lebih rendah dari bunga pinjaman pebankan saat ini yang berada pada kisaran 8,25%.

“Sekarang, misalnya, BlackRock ingin juga masuk ke dalam (proyek LRT Jabodebek). Kalao BlackRock masuk ke dalam, mungkin bunganya bisa kita turunkan dari 8,25% menjadi (sekitar) 7%,” katanya di Jakarta (31/7).

Selain itu, dia menambahkan biaya pembangunan LRT Jabodebek rute Cibubur-Bogor juga bisa lebih murah karena pemerintah tidak membangun jalur kereta api ringan tersebut secara melayang (elevated) seluruhnya.

Luhut menegaskan jalur LRT rute Cibubur-Bogor beberapa akan dibangun di permukaan tanah atau at grade. Dia mengungkapkan pemerintah sudah belajar dari pembangunan prasarana LRT tahap pertama dalam membangun lintas Cibubur-Bogor.

“Tidak semua mau elevated lagi karena elevated itu cost-nya mahal,” tuturnya.

Dia menjelaskan biaya pembangunan jalur LRT Jabodebek secara melayang bisa mencapai Rp 500 miliar per kilometer. Untuk pembangunan secara at grade, ungkapnya, kemungkinan hanya Rp 250 miliar per kilometer.

Oleh karena itu, Luhut menuturkan pemerintah memutuskan segera digelar studi terkait dengan pembangunan prasarana LRT Jabodebek lintas Cibubur-Bogor.

Sementara itu, Direktur Logistik dan Pengembangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Budi Noviantoro mengatakan pihaknya diminta mempersiapkan pembangunan LRT lintas Cibubur-Bogor.

“Di perpres (peraturan presiden) memang termasuk Cibubur-Bogor. Tapi tahap kedua. Menteri perhubungan minta persiapannya dari sekarang,” katanya.

Dia menjelaskan persiapan yang akan dilakukan BUMN itu adalah persiapan desain. PT KAI hanya melakukan persiapan pembangunan jalur LRT Jabodebek tahap kedua pada lintas Cibubur-Bogor.

Terkait dengan kemungkinan lintas Cibubur-Bogor dilakukan berbarengan dengan tahap pertama, dia menuturkan hal ini bisa terjadi jika dana untuk melakukan pembangunan prasarana pada rute tersebut tersedia.

PELIBATAN SWASTA

Saat ini, dia juga menuturkan investor swasta akan dilibatkan dalam kerja sama membangun transit oriented development (TOD) guna mengurangi biaya investasi yang harus dikeluarkan dalam proyek LRT Jabodebek.

TOD merupakan salah satu pendekatan pengembangan kota yang mengadopsi tata ruang campuran dan memaksimalkan penggunaan angkutan massal seperti LRT, serta dilengkapi jaringan pejalan kaki atau sepeda.

Menurutnya, pengembang swasta bisa membantu perusahaan membangun stasiun dan TOD agar akses ke lokasi proyek perumahan miliknya lebih menarik. Dengan strategi itu, ungkapnya, rumah-rumah yang dijual oleh pengembang bisa laku keras.

Untuk diketahui, proyek LRT di wilayan Jabodebek pada tahap pertama membutuhkan dana sebesar Rp 27,5 triliun. Dari dana Rp27,5 triliun tersebut, pemerintah memberikan penyertaan modal negara (PMN) total sebesar Rp9 triliun dnegan perincian diberikan kepada KAI sebesar Rp7,6 triliun dan PT Adhi Karya Tbk sebesar Rp1,4 triliun.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan PT KAI mengusulkan jalur LRT dapat diperpanjang hingga Bogor.

Menurutnya, pemerinta berharap biaya pembangunan jalur kereta api ringan terintegrasi di wilayah Jabodebek hingga Bogor bisa murah.

Menhub menambahkan pemerintah juga berencana melibatkan swasta dalam pembangunan TOD LRT Jabodebek. “Kita ingin swasta itu juga sharing karena mereka akan mendapatkan manfaat suatu aksesibilitas yang bagus,”  kata Budi.

Dia menjelaskan pihaknya akan melakukan lelang untuk menentukan swasta yang akan terlibat dalam pembangunan TOD LRT Jabodebek.

 

Source: Bisnis indonesia

Penulis: Yudi Supriyanto