Konsep TOD Genjot Penjualan

News - Thursday, 10 August 2017

Konsep hunian transit oriented development yang terintegrasi dengan sarana angkutan public diyakini dapat meningkatkan penjualan dan mampu memberikan keuntungan lebih tinggi.

Tommy H. Bastamy, Managing Partner Strategic Advisory Group Cowell Banker Commercial Indonesia, mengatakan pengembang di dalam negeri sebenarnya sudah akrab dengan konsep kawasan terpadu sebelum transit oriented development (TOD) menjadi tren.

Penjualan unit di kawasan terpadu pun terbukti lebih baik dibandingkan dengan proyek property yang berdiri sendiri atau tidak terintegrasi.

“Kami melihat hal yang sama di proyek yang terintegrasi langsung dengan moda transportasi public atau TOD. Coldwell juga mencatat selama 2014 hingga awal 2017 lalu harga apartemen yang dekat dengan moda transportas public meningkat hingga 10% per tahun,” katanya, Senin (3/7).

Tommy menuturkan kenaikan harga apartemen yang dekat dengan moda transportasi public itu lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kenaikan harga apartemen yang ada pada level 5% pada tahun lalu.

Menurutnya, konsep TOD juga sebenarnya dapat diterapkan untuk produk property selain hunian vertical. Selama ini pertumbuhan hunian vertical berkonsep TOD di dekat sarana trasnportasi public belum diikuti dengan perkembangan kawasan ritel, hotel, dan perkantoran.

“Konsep TOD itu proyek kawasan terpadu sehingga tidak bisa single sector. Konsep TOD juga sebenarnya lahir dari kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang dekat dengan transportasi public. Konsep itu sudah diterapkan sejak lama di berbagai negara,” ujarnya.

Dia juga menilai kota-kota besar di Indonesia sangat membutuhkan produk property yang dikembangkan dengan konsep TOD. Apalagi saat ini penumpang angkutan umum terus meningkat setiap tahunnya.

Jumlah penumpang kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek pada 2016 mencapai 280 juta orang, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 257 juta orang. Adapun penumpang TransJakarta pada 2016 mencapai 123 juta orang, lebih tinggi dibandingkan dengan 2015 yang mencapai 102 juta orang.

Sementara itu Meyriana Kesuma, Ketua Bidang Real Estate dan Pemukiman Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) DKI Jakarta, mengatakan pengembangan konsep TOD untuk property harus disertai dengan regulasi yang mengaturnya secara tegas.

“Pengembangan TOD menyasar semua masyarakat dari berbagai tingkatan pendapatan. Bahkan komposisi huninan berimbang juga harus diterapkan di sini,” katanya.

Pemerintah pusat dan daerah harus segera membuat regulasi yang mengatur pengembangan konsep TOD. Alasannya, konsep TOD harus dilakukan secara berkelanjutan dalam jangka panjang.

Keberadaan regulasi yang mengatur konsep TOD akan memudahkan koordinasi antarsektor dala pengembangannya.

Source: Investor Daily

Penulis: Ipak Ayu H.N.